Cipto Mangunkusumo lahir di Pecangkan,
dekat Ambarawa tahun 1886. Setelah memperoleh ijazah STOVIA (Sekolah Dokter) di
Jakarta, mulailah ia bertugas sebagai dokter pemerintah. Waktu bertugas di
Demak, ia banyak menulis karangan yang menceritakan penderitaan rakyat akibat
penjajahan Belanda.
Baca Selengkapnya
Karangan-karangan itu dimuat dalam
harian De Express. Akibatnya, ia diberhentikan dari jabatan sebagai dokter
pemerintah. Pada tahun 1960 dr. Cipto berhasil membasmi wabah pes yang
berjangkit di daerah Malang. Pemerintah Belanda menganugerahkanbintang Orde Van
Oranye Nassau sebagai peghargaan, tetapi kemudian bintang itu dikembalikannya.
Kegiatang di bidang politik semakin meningkat setelah bersama Douwes Dekker dan
Suwardi Suryaningrat turut mendirikan Indische Partij tahun 1912. Partai itu
adalah partai politik pertama yang berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Belum samapai setahun, ia sudah kembali ke Indonesia karena serangan penyakit
asma.
Perjuangan selanjutnya diteruskan
Cipto dalam Volksraad, mengkritikPemerintah Belanda dan membela kepentingan
rakyat kecil. Akibatnya, pada tahun 1920 dr. Cipto diperintahkan meninggalkan
Solo, tempat ia giat mengembangkan “Kartini Club” selain menjalankan praktik
sebagai dokter. Ia tinggal di Bnadung sebagai tahanan kota, tetapi kegiatan
politiknya tidak berhenti. Rumahnya menjadi tempat berkumpul dan berdebat
tokoh-tokoh pergerakan nasional, antara lain Ir.Sukarno. Pada tahun 1927 dr.
Cipto Mangunkusumo dibuang ke Banda Neira, ia dipindahkan ke Ujungpandang dan dari
sana dipindahkan lagi ke Sukabumi, Jawa Barat. Karena udara Sukabumi tidak
cocok untuk penyakit asama, dipindahkan ke Jakarta. Tanggal 8 Maret 1943 dr.
Cipto Mangunkusumo meninggal dunia di Jakarta dan dimakamkan di Watu Ceper,
Ambarawa. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat d Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar