Cut Nyak Dien lahir di Lampadang.
Aceh, pada tahun 1850. Ia besarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara
kerajaan Aceh dan Belanda. Situasi itu berpengaruh terhadap dirinya. Ia menikah
dalam usia muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Pada bulan Desember 1875,
Lampadang diduduki Belanda.
Cut Nyak Dien mengungsi ke tempat
lain, berpisah dengan suami dan ayahnya yang terus melanjutkan perjuangan.
Ibrahim Lamnga tewas dalam pertempuran di Gle Tarum bulan Juni 1878. Cut Nyak
Dien bersumpah hanya akan menikah dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk
menuntut balas kematian suaminya.
Pada tahun 1880 ia menikah untuk kedua
kalinya dengan Teuku Umar, Kemenakan ayahnya. Teuku Umar adalah seorang pejuang
Aceh yang terkenal pula dan banyak mendatangkan kerugian kepada Belanda. Pada
tahun 1893 Teuku Umar bekerja sama dengan belanda, sebagai taktik untuk
memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Tiga tahun kemudian, ia berbalik
memerangi Belanda kembali. Ia gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal
11 Februari 1899. Sesudah itu, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan di Daerah
pedalaman Meulaboh. Ia termasuk salah satu pejuang yang pantang tunduk dan
tidak mau berdamai dengan Belanda.
Sewaktu akan ditangkap, Cut Nyak Dien
mencabut rencong dan berusaha melawan. Tangannya dapat dipegang oleh seorang
tentara Belanda, lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh. Tetapi, ia masih saja
berhubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Karena itu, ia dibuang ke
Sumedang, Jawa Barat. Ditempat pembuangan itu ia meninggal dunia tanggal 6
November 1908 dan dimakamkan di sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar