Selamat Datang di My Web Blog

Jumat, 01 Mei 2015

CUT NYAK DIEN (1850-1908)



Cut Nyak Dien lahir di Lampadang. Aceh, pada tahun 1850. Ia besarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda. Situasi itu berpengaruh terhadap dirinya. Ia menikah dalam usia muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Pada bulan Desember 1875, Lampadang diduduki Belanda.
Baca Selengkapnya



Cut Nyak Dien mengungsi ke tempat lain, berpisah dengan suami dan ayahnya yang terus melanjutkan perjuangan. Ibrahim Lamnga tewas dalam pertempuran di Gle Tarum bulan Juni 1878. Cut Nyak Dien bersumpah hanya akan menikah dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk menuntut balas kematian suaminya.

Pada tahun 1880 ia menikah untuk kedua kalinya dengan Teuku Umar, Kemenakan ayahnya. Teuku Umar adalah seorang pejuang Aceh yang terkenal pula dan banyak mendatangkan kerugian kepada Belanda. Pada tahun 1893 Teuku Umar bekerja sama dengan belanda, sebagai taktik untuk memperoleh senjata dan perlengkapan perang. Tiga tahun kemudian, ia berbalik memerangi Belanda kembali. Ia gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Sesudah itu, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan di Daerah pedalaman Meulaboh. Ia termasuk salah satu pejuang yang pantang tunduk dan tidak mau berdamai dengan Belanda.

Sewaktu akan ditangkap, Cut Nyak Dien mencabut rencong dan berusaha melawan. Tangannya dapat dipegang oleh seorang tentara Belanda, lalu ditawan dan dibawa ke Banda Aceh. Tetapi, ia masih saja berhubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Karena itu, ia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Ditempat pembuangan itu ia meninggal dunia tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar